Peringatan Maulid Nabi 1438 H: Felix Siauw dan Ustad yang Tak Dirindukan

Oleh: Asri Supatmiati*.

Saya penasaran banget dengan Ustad Felix Siauw. Sebab, seterkenal-terkenalnya Ustad Felix, saya belum pernah nonton ceramahnya di tivi. Maklum, channel di saya cuma dua. Sebenarnya udah sering beliau ceramah di Bogor. Cuma belum kesampaian ingin menghadirinya. Kadang karena setingan acaranya yang untuk anak muda. Kadang karena waktunya malam. Kadang bareng dengan kesibukan saya yang tak bisa ditinggalkan. Maka, ketika Ustad Felix rencana diundang ceramah di Pesantren Daarut Tsaqoofah, Cemplang Baru, Cilendek, Kota Bogor, saya niatkan pasti hadir. Secara, nggak perlu modal. Dekat banget dengan rumah. Cuma 20 menitan. Gratis lagi. Malah dapat makan hehe…

Yup, udah lama banget penasaran, kayak apa sih, retorita dakwah penulis buku “Muhammad Al-Fatih 1453” itu. Ternyata memang makjleb-makjleb (bahasa anak sekarang). Banyak memakai analogi-analogi untuk menjelaskan suatu pemahaman.

Misalnya, kalau monyet dikasih uang Rp2 miliar dan setandan pisang, pilih yang mana? Pasti pilih pisang. Dikasih penjelasan tentang hebatnya uang Rp2 miliar pun, tak akan berubah pikiran. Kenapa? Karena monyet nggak mikir. Jadi, beragama itu memang harus mikir. Makanya orang mau taat pada Allah karena mikir. Yang nggak mikir nggak bakal taat. Dapat pelajaran berharga.

BTW, kedatangan Ustad Felix ke Ahad (31/1) itu, sempat dikabarkan tidak pasti. Maklum, jam terbangnya tinggi. Nggak gampang ngundang beliau. Bahkan sehari sebelumnya dikabarkan ceramah akan diisi oleh Ustad Budi Abdurrohim. Belum seterkenal Ustad Felix sih (mungkin karena beliau nggak main twitter, belum nulis buku, dan juga bukan mualaf hehe…).

Tapi, Ustad Budi ini sudah terkenal di lingkungan ponpes dan sekitarnya. Sering didapuk jadi pembicara, moderator atau pembaca Alquran. Pokoknya sudah familiar bangetlah. Jadi kalau didapuk jadi pembicara acara Maulid Nabi itu, sebenarnya tidak aneh lagi.

Masalahnya, karena jauh-jauh hari sudah tersiar kabar akan mengundang Ustad Felix, jadinya, untuk saat itu, Ustad Budi bukan termasuk pembicara yang dirindukan (hihihi…jahatnya…afwan ya Ustad Budi). Padahal, retorikanya tak kalah interaktif. Dapat pelajaran juga.

Eit, tapi tulisan ini tidak bermaksud membanding-bandingkan para ustad. Nggak. Justru, sedang merangkum gaya retorika para ustad dimaksud. Kok bisa mereka begitu laris dan terkenal. Betapa banyak ladang pahalanya, karena mampu mengguncang jamaah. Mengubah banyak orang. Speak to change, meminjam judul buku Ustad Jamil Azzaini Kedua.

Ternyata memang memiliki gaya khas masing-masing. Style-nya beda-beda. Punya resep retorikanya. Bahkan Ustad Budi pun laris di lingkungan sekitar kami, karena juga punya style sendiri.

Begitulah, mulai ustad ngetop seperti Arifin Ilham hingga ustad nggak ngetop selevel pengisi pengajian di masjid-masjid perumahan, pernah saya datangi. Saya catat materinya, bahkan sampai joke-joke-nya. Ada yang meniru stand up commedy-nya Cak Lontong (kebetulan saya suka celetukan cerdasnya dan saya ingat). Ada yang belum pernah saya dengar sebelumnya.

Bahkan pernah saya temukan, ada lelucon yang sama persis yang disampaikan. Tiga ustad, tiga moment, contoh guyonannya sama. Aha, rupanya mereka pun juga melakukan ATM alias amati, tiru dan modifikasi (seperti penulis pemula hehe…). Sah-sah aja.

Jadi, saya pun tak akan segan menyontek dan meniru gaya mereka. Sebisa saya, disesuaikan dengan style saya. Yee, bukan berarti saya pengin ngetop atau laris kayak mereka. Tapi saya yakin, bicara itu berkorelasi dengan mendengar.

Kalau mau menjadi pembicara yang baik, harus sering-sering mendengar. Menghadiri ceramah. Menyerap retorikanya. Pastinya nggak bisa kita tiru 100 persen. Tapi, selalu ada ilmu baru yang kita dapatkan. Meski temanya dianggap ecek-ecek, kita udah merasa paham, udah nggak butuh.

Yup, kita itu memang harus seperti spon. Menyerap ilmu dari mana aja. Bahkan pada acara Maulid Nabi itu, hadir ustazah cilik, Najda, putri dari pemilik pondok, Ustazah Yeni Nurbani. Luar biasa pula kemampuannya memberi tausiah di usia 6 tahun. Dapat pelajaran lagi.

Apalagi saya belum menemukan, figur penceramah muslimah yang cetar membahana. Ananda Najda ini salah satu bibit unggulnya. Aamiin.

Memang, ada sih beberapa kandidat dalam hati saya. Saya mendoakan semoga beliau-beliau kelak menjadi penerus-penerus Mama Dedeh atau penyeimbang Oki Setiana Dewi. Mungkin di antara Anda, ya, Anda, ada yang memimpikan posisi itu? Menjadi ustazah yang dirindukan? Biar sekalian saya doakan!

Bogor, 2 Februari 2016

*) Jamaah yang hadir dalam acara Maulid Nabi 1438 H di Ponpes Daaruts Tsaqoofah, Bogor.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>